Selasa, 18 Desember 2018 | 19:18 WIB

Knowledge Management

bijak kelola THR

  • Jumat, 8 April 2016 | 01:00 WIB
  • by amelia akbar

Bijak Kelola THR 

THR. Siapa yang tak kenal dengan tiga konsonan tersebut? Bahkan anak TK pun ada yang mengenalnya seperti mengenal presiden di negeri ini. Kehadirannya yang hanya satu kali dalam setahun sangat ditunggu-tunggu oleh kita. Termasuk mereka yang tidak memiliki pekerjaan tetap atau yang pengangguran pun merasa---sangat---H2C (harap-harap cemas) untuk mendapatkannya.

Seperti yang kita tahu, THR (Tunjangan Hari Raya) bisa berupa barang, misalnya sembako keperluan lebaran atau berupa fresh money (dana segar) yang tentu saja lebih diminati. Meskipun untuk para pegawai THR merupakan rejeki yang sudah dijadwalkan, tetap saja THR tak ubahnya seperti anugrah terindah dan 90% anugrah ini ‘berlalu’ sangat cepat.

THR seharusnya tidak dipakai untuk membiayai Pengeluaran yang sebenarnya tidak berkaitan dengan Hari Raya. Misalnya pakaian baru, sepatu baru, mainan baru, perabotan baru, kue lebaran yang berlebihan, kembang api, perhiasan untuk dipakai saat Hari Raya dsb. Bahkan ada yang memaksakan untuk mudik dengan kendaraan baru yang mahal hanya demi pujian dari keluarga dan saudara di kampung halaman.

Pada hakikatnya uang THR bukanlah pendapatan baru atau tambahan karena THR merupakan tunjangan (bantuan) dari perusahaan/instansi yang seharusnya dipergunakan untuk membiayai pengeluaran yang timbul akibat Hari Raya. THR merupakan tambahan pendapatan yang diperoleh di luar gaji. Sedangkan belanja rutin bulanan tetap mengandalkan sumber dana dari pendapatan yang biasa diperoleh. Sudah sepantasnya, jika dengan gaji bulanan saja pengeluaran rutin bisa dilakoni maka dengan tambahan THR tentunya ada kelebihan dana yang bisa disimpan. Logikanya begitu toh?

Namun yang sering terjadi justru sebaliknya. Puasa yang diikuti lebaran malah membuat kebutuhan membengkak. Apalagi Anda yang berencana mudik, biasanya benar-benar memanfaatkan THR yang didapat.

Sudah saatnya Anda mengubah gaya hidup yang terlalu konsumtif di bulan puasa dan lebaran agar THR yang didapat lebih bermakna ketimbang dibelanjakan. Sungguh menyedihkan jika THR menguap dalam sekejap.

 

THR yang Anda terima bisa dialokasikan ke pos-pos berikut ini yang dikelompokkan berdasarkan skala prioritas yang paling dasar. Perhitungkan semua biaya dan sesuaikan dengan THR yang Anda terima.

 1.      Zakat dan sedekah

Zakat adalah kewajiban utama umat muslim. Maka pos ini berada di urutan paling atas. Porsinya kecil saja. Hanya 2,5%. Sedangkan untuk sedekah, silakan dipenuhi sesuai dengan kemampuan Anda. Bukan hanya kemampuan dari segi finansial tetapi juga kemampuan untuk mengikhlaskannya agar barokah. Dengan menunaikan zakat dan memberi sedekah berarti kita telah membersihkan harta kita karena ada hak orang lain di dalamnya. Semakin banyak bersedekah insya Allah semakin bertambah rezeki kita.

 2.      Bayar utang

Layaknya zakat, membayar utang adalah kewajiban kita. Prioritaskan utang dengan bunga yang paling besar. Akan lebih baik kalau Anda bisa melunasi utang yang ada agar puasa dan lebaran benar-benar membawa kebahagiaan lahir batin yang seutuhnya bagi Anda sekeluarga.

 3.      Ditabung 10%

Mengingat melangitnya harga sembako di bulan puasa, para pakar pengelola keuangan setuju bahwa Anda cukup menyisihkan 10% saja untuk ditabung. Mengapa? Karena di sebelas bulan yang lain, mereka yakin bahwa Anda sudah menabung dengan persentase yang bagus. Bahkan minimal 30% dari penghasilan yang Anda peroleh.

 4.      THR untuk orangtua, keponakan, saudara, dll

Ada saat memberi dan ada saat menerima. Wajar saja sekali setahun berbagi rezeki dengan orang-orang yang kita sayangi. Tanpa kita sadari, yang kita bagi bukanlah materi semata. Tetapi juga kebahagiaan, kebaikan dan kasih sayang. Semakin banyak kita memberi dengan ikhlas, semakin banyak ganjaran pahala untuk kita. Percayalah, kebaikan itu tak pernah sia-sia.

5.      Keperluan lebaran

Perlu adanya ketegasan dalam membedakan keperluan dan keinginan. Keperluan merupakan hal yang memang kita butuhkan sedangkan keinginan hanyalah hasrat semata. Seringkali hal yang kita inginkan ternyata tidak kita butuhkan sama sekali. Jadi, buatlah daftar seselektif mungkin untuk memenuhi kebutuhan Anda di hari lebaran.

 6.      Sisihkan untuk Idul Adha

Bulan Ramadhan dan Dzulhijjah hanya berjarak 3 bulan. Ada baiknya Anda sisihkan THR Idul Fitri untuk keperluan Idul Adha karena Anda tidak akan memperoleh THR saat itu. Namun, tetap saja Anda harus menyediakan makanan yang sedikit agak istimewa dibanding hari biasa. Toh, saudara yang datang berkunjung---bahkan berkumpul--- harus tetap disuguhi. Bukankah tamu adalah raja?

Jika mungkin, THR Idul Fitri bisa menjadi tabungan qurban Anda tahun ini atau tahun depan.

 Pos tambahan:7.      Anggaran mudik

Sebaiknya dipersiapkan jauh sebelumnya. Misalnya: minimum 1 tahun sebelumnya. Termasuk uang saku untuk belanja di hari lebaran, oleh-oleh untuk keluarga, dll.

 8.      Investasi

Silakan membeli emas dengan dalih bisa dijual kembali jika keadaan mendesak. Tak ada yang melarang bila Anda langsung menjualnya saat lebaran usai. Proteksi (asuransi) juga bisa dijadikan pilihan berinvestasi. Sedangkan investasi untuk properti mungkin dipilih oleh Anda yang mendapat THR dengan angka fantastis.

 

Yang jelas, jangan habis-habisan dalam merayakan lebaran. Apalagi sampai minus sehingga menguras tabungan hanya untuk memenuhi ‘keperluan’ lebaran. Yang paling parah adalah berutang demi menutupi anggaran belanja yang lebih besar daripada THR yang dimiliki.

Oh ya, seorang teman pernah menyarankan untuk memisahkan THR yang diperoleh oleh pasangan suami istri yang bekerja dimana THR suami dialokasikan untuk kebutuhan lebaran sementara THR istri ditabung dan digunakan untuk keperluan pribadi. Bagaimana?? Setujukah Anda untuk lebih menyenangkan istri yang sepanjang Ramadhan selalu setia menyiapkan sahur dan hidangan berbuka meskipun ia sedang cuti puasa?

Tulisan ini tidak berniat menggurui para pakar pengelola keuangan. Namun hanya sebagai referensi atau pengingat untuk mereka yang sering ‘lupa diri’ saat THR di tangan.

Semoga bermanfaat.



Penulis : Amelia Akbar

 anggota ISI Jabar & sekretaris di PT Sanbe Farma